Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ambil yang Kamu Suka, Bayar yang Kamu Perlu

Suka kalap kalau masuk ke supermarket atau department store? Sepertinya barang-barang yang ada di rak telah disusun sedemikian rupa untuk kita ambil dan bawa pulang. Barang-barang itu seperti melambaikan tangannya pada kita dan berkata, “Bawa daku pergi….” – jadi ingat lagunya Ruth Sahanaya ya. 

Pertama, sadarilah bahwa cara menyusun barang di etalase itu ada ilmunya. Saya pernah tanya ke salah satu pramuniaga toko sepatu tentang bagaimana cara mereka memutar tampilan sepatu setiap pekannya. Kedua, barang-barang itu indah ketika dipajang bersama-sama dengan barang-barang lainnya. Ketika dibawa pulang dan barangnya sendirian di lemari, keindahan warnanya akan sedikit menurun. Hehehe…            

Kedua, saya buka rahasia sedikit tentang teknik penjualan umum. Tulisan SALE , harga awal yang dicoret dan diganti dengan harga baru yang lebih rendah. Semua itu memang sudah diteliti mampu membuat seseorang tergoda. Tiba-tiba akan terdengar bisikan lembut :

“Ayo mumpung murah”

“Kapan lagi ada kesempatan seperti ini..”

“Besok harga sudah normal lagi lho”

Semenrata peri baik hati juga akan berbisik lembut di telingamu :

“Apa kamu benar-benar butuh itu?”

“Itu cuma keinginan sesaat lho, sebenarnya kamu gak beli juga gak apa-apa”

Sangat sering peri baik hati kalah, dan ini tipsnya :

Ambil saja barang yang kita mau, masukkan ke dalam keranjang belanja kita. Tapi, jangan buru-buru ke kasir, putar-putar dulu saja sambil berpikir. Kalau kamu keluar dari toko ini tidak bawa barang itu, kira-kira apa yang akan terjadi ya? Bayangkan dirimu esok hari saat memilikinya, dan bayangkan juga kalau kita tidak memilikinya. Bayangkan lagi untuk keesokan harinya, pekan depan, bulan depan. Kalau kira-kira kamu baik-baik saja saat membayangkan hidupmu tanpa barang itu, tidak sakit, tidak kejang-kejang, maka mungkin saja kamu tidak butuh barang itu.

Langkah berikutnya, kembalikan barang itu ke rak. Atau kalau kamu terlanjur ada di kasir, titipin saja barangnya ke petugas kasirnya sambil bilang ,”Maaf mas, saya gak jadi beli yang ini ya…”. Mudah bukan?

Ada penelitian kecil-kecilan yang saya lakukan. Objeknya adalah diri saya sendiri hahaha. Bahwa ternyata membeli barang beberapa kali bukan karena kebutuhan, melainkan rasa puas ketika mengambil barang tersebut dari rak dan menaruhnya di keranjang. Sensasinya itu lho. Rasakan.

Bahkan beberapa kali mungkin pernah, setelah sampai di rumah beberapa dari kita menaruh tas belanjaan itu di sudut kamar dan beru dibuka setelah 1 pekan atau bahkan 1 bulan. Artinya, sebenarnya barang tersebut tidak benar-benar kita perlukan saat itu.

Terakhir sebagai alat uji apakah kita benar-benar perlu barang itu atau tidak , lakukan hal ini :

Setelah tahu barang yang akan kamu beli, keluarlah dari toko tersebut dan berjalan-jalanlah sejenak ke tempat lain. Jika dengan jalan-jalan itu kamu mudah melupakan barang itu, maka bisa jadi kita tidak benar-benar membutuhkan barang itu.

Selamat mencoba ya. Semoga kuat

Sebuah tulisan dari Ferra Trisiana, ST, FChFP, CFP