Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Antara Corona, Helm dan Asuransi

“Kenapa helmnya tidak dipakai nak?”
“Enggak kok Pa, Aku gak papa kok…”

“Hati-hati nak, jangan naik terlalu tinggi, nanti jatuh lho”
Enggak kok Ma, aku gak jatuh kok..”

“Awas nak, jangan minum es, nanti kamu batuk lho”
“Gak apa-apa, aku gak batuk kok..”

Familiar kan dengan percakapan ortu – anak di atas? Kita enggak lagi bahas tentang pola komunikasi dan pemilihan bahasanya. Tapi sadarilah bahwa pembicaraan seperti itu turun-temurun terjadi secara refleks. Dan ajaibnya, walaupun anak-anak di Indonesia tidak saling mengenal, tapi respon si anak terhadap peringatan orang tuanya itu kok bisa sama ya.


Di benak Anda, “Ihh…gak ngerti amat sih ini anak, gak bisa dikasih tahu banget sih, ihhh!”

Walau tanpa kita sadari, bahwa dia ternyata sedang mewarisi kelakuan orang tuanya dulu ketika diperingatkan orang tuanya.

“Nak, helm, pelindung telapak, lengan dan lutut. Perlengkapan itu bukan untuk mencegah kamu terjatuh. Walaupun kamu pakai helmpun kemungkinan kamu akan jatuh juga. Itu dipakai untuk melindungi kita ketika kita harus terjatuh. Kaki kita bisa saja memar kalau kita jatuh, kepala kita bisa saja terluka kalau kita jatuh, telapak tangan kita juga bisa lecet kalau kita jatuh”

Respon anak-anak seperti ini membuat kita tersadar bahwa jiwa kanak-kanak kita abadi dalam diri setiap orang. Tapi walaupun demikian, secara sadar sebagai orang tua, kita selalu mengatakan nasihat-nasihat di atas untuk melindungi anak-anak kita dari sesuatu hal yang tidak diharapkan.

Dan yang lebih menarik adalah, seringkali kejadian-kejadian di atas berakhir dengan celetukan para orang tua yang juga sama,

“Nah kan, papa juga bilang apa tadi, hati-hati, kalau udah kejadian gini, baru deh….”

Preventif versus Reaktif

Reaksi masyarakat terhadap publikasi masuknya Virus Corona ke Indonesia memberikan contoh sempurna bagaimana jiwa kanak-kanak itu bersemayam dalam diri kita. Eh, by the way, tulisan ini bukan mau memanfaatkan situasi lho ya. Tapi memang ketika kondisinya sedang baik-baik saja, himbauan pencegahan sudah sering dilakukan.

Dan sikap reaktif ini bukan yang pertama di negeri ini, kejadian-kejadian seperti wabah demam berdarah yang baru diikuti dengan fogging, lebih ketatnya penjagaan di tempat-tempat publik setelah ada kejadian, kerja bakti yang dilakukan setelah banjir. Dan seperti biasa, setelah satu dua bulan berlalu, semua kembali normal seperti kebiasaan semula.

Begitu pula perencanaan keuangan, bagaimana pentingnya mengatur anggaran, berinvestasi sesuai tujuan, dan memiliki asuransi. Ketiganya menjadi hal mudah yang banyak disesali ketika tidak dilakukan sejak awal.

Terlihat dari sebagian masyarakat yang baru memulai investasinya 5 – 10 sebelum pensiun. Atau mencari produk asuransi ketika merasa kondisi kesehatannya menurun.

Selalu ada niat baik di balik setiap perilaku

Sekarang coba lihat apa terjadi pada anak kecil itu ketika beranjak dewasa, dan seorang agen asuransi hadir untuk memberikan penjelasan tentang pentingnya asuransi,

“Saya tidak butuh, saya sehat-sehat aja kok”

“Saya pasti akan hidup sampai anak-anak besar nanti, saya akan baik-baik saja…”

“Saya masih muda kok, nanti aja kalau udah agak tua dan menjelang sakit”

Sebenarnya, fungsi asuransi itu (cuma) seperti helm…

Asuransi tidak akan mencegah kita dari meninggal, kecelakaan dan sakit kritis. Asuransi (hanya) akan melindungi efek samping yang mungkin akan dialami keluarga Anda ketika peristiwa tersebut harus terjadi.

Santunan Asuransi diusahakan untuk aset-aset kita tetap pada fungsi aslinya, rumah untuk tinggal, kendaraan untuk antar jemput sekolah. Tentunya keluarga tidak menginginkan aset tersebut dijual untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang muncul ketika sebuah kepastian terjadi.

Bisa jadi, para agen asuransi akan hadir sebagai orang tua yang selalu mengingatkan Anda untuk mengenakan “Helm Kehidupan”, semakin kuat jiwa kekanak-kanakan Anda muncul, semakin gigih mereka mengingatkan Anda.

Kepedulian orang tua itulah yang sering diterjemahkan anak-anak kecil sebagai gangguan….

Dan kepedulian para agen asuransi juga yang sering disalahartikan berlebihan oleh masyarakat luas.

“Nak, kelak kau akan paham mengapa ayahmu ini sedemikian cerewet….”

Sebuah tulisan dari Gusnul Pribadi (Pakar Asuransi)