Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Belanja Kudu Pakai Momentum

Kaum hawa, suka banget namanya belanja. Mungkin kalau DNAnya dibedah bukan X-Y-X-Y, melainkan X-Y-S-H-O-P-P-I-N-G-X-Y. Eh, tapi di zaman now ini para pria juga banyak yang doyan belanja lho. 

Kalau belanja sayur dan kebutuhan rumah tangga kan sifatnya sudah rutin, jadi kita hanya perlu membuat jadwal harian, pekanan atau bulanan untuk belanja rutin ini. Nah, bagaimana kalau belanja yang lain-lainnya seperti baju, tas dan sepatu yang terkadang sering tidak terencana. Lagi iseng-iseng buka Instagram, tahu-tahu khilaf visit site dan order. Hahaha, masalahnya kalau khilafnya bisa tiap hari. Sudah bukan khilaf lagi namanya, tapi doyan! 

Lalu gimana dong?

Saya ada satu tips, kita buat momen-momen khusus buat belanja. Kaitkan dengan pencapaian-pencapaian kecil dalam hidup atau pekerjaan kita. Sehingga kita bisa lebih terpacu untuk lebih produktif. Kalau saya, saya boleh belanja tas dan sepatu hanya kalau saya sedang jalan-jalan keluar negeri. Jadi momennya sangat-sangat terbatas. DI bisnis yang saya jalani sebagai tenaga pemasar di sebuah perusahaan asuransi syariah, saya bisa mendapatkan kesempatan jalan-jalan ke luar negeri jika saya mencapai prestasi tertentu. Jadi, saya harus berusaha mencapainya jika ingin belanja tas dan sepatu. Repot amat sih? 

Justru itu, saya sengaja bikin agak repot. Karena sebenarnya bisa saja uangnya ada kalaupun kita mau beli tas kapan saja. Nah, justru itulah yang mengerikan. Saya perlu kontrol untuk membatasinya. Itu kan saya, kalian pasti beda. Misalnya kalau profit bisnis naik 10% baru boleh beli tas dan sepatu. Efeknya, kalau saya ke mall di Indonesia saya sudah mati rasa melihat barang-barang yang ada. Bukan tidak bisa membelinya, insya Allah uangnya ada, melainkan karena ini belum momennya.  

Buat yang sudah menikah, kamu bisa pilih momen seperti ulang tahun pernikahan untuk boleh memberi hadiah untuk diri sendiri .Karena hanya 1 kali dalam setahun, maka pengeluaran kita bisa lebih terkendali.

Ingat masa kecil dulu? 

Orang tua kita sering membelikan baju baru setahun sekali saat lebaran. Beli sepatu baru saat kenaikan kelas. Sebenarnya bukan tentang mengidentikkan lebaran dengan baju baru, melainkan untuk mengatur momentum saat kita beli baju. Pantas aja orang tua kita jago berhemat, walau gaji terbatas. Karena momen belanja sudah terjadwal, 

Beda benget sama zaman sekarang lho. Kalau kita ke mall, sebagian kita merasa tidak afdol kalau pulang tidak bawa sesuatu. Nah, masalah terbesarnya saat ini adalah. Mallnya sudah sudah pindah ke ponsel kita. Pantas saja kantong makin tipis dan lemari makin penuh. 

Anak-anak ingin makan di luar?

Nah, yang ini menarik. Kami sering melibatkan anak-anak untuk mendoakan usaha atau bisnis yang kami jalankan. Jika dalam sebulan saya mencapai target penjualan, maka saya akan ajak keluarga untuk memesan sesuatu dari rumah. Makan di rumah aja, lebih hemat. Lagipula semua hal adalah tentang bagaimana kita membiasakannya kok. 

TIPS 

Kalau tidak ada momentum belanja, setiap kali ada penawaran diskon atau sedang pergi ke mall kita bisa jadi menenteng sesuatu saat pulang. Bisa-bisa dua bulan sekali ke mall, ada 1 sepatu atau baju baru. Nah, kalau dengan momentum boleh belanja setahun 2 kali, maka kita bisa menghemat momen 4 kali belanja. Jika sekali beli baju atau sepatu anggaran kita adalah Rp. 300,000, maka kita bisa menghemat 4 x Rp. 300,000 = Rp. 1,2 juta setahun. WOW!  

Sebuah tulisan dari Ferra Trisiana (Perencana Keuangan Bersertifikat)