Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mau Mulai Investasi, Sudah Tau Profil Risikomu Belum?

Setahun belakangan ini, tiba-tiba banyak orang yang mendadak investasi saham, sampai rasanya orang beli saham karena FOMO (Fear of Missing Out) alias takut ketinggalan aja. Tapi ternyata dibalik serunya orang-orang yang mulai sadar untuk berinvestasi, ada kisah sedihnya juga nih. Belakangan muncul berita orang nekat mengakhiri hidupnya karena investasi sahamnya anjlok cukup dalam. Duh, sedih ya. Teman Jooara, tau kan kalau investasi saham itu untuk investor dengan profil risiko agresif?

Eh profil risiko? Apaan tuh?

Profil risiko ini gampangnya adalah perasaan kita terhadap uang yang kita investasikan. Kalau lagi main di Dufan nih, ada orang yang senang main komedi putar aja, ada yang senang main arung jeram, seru tapi ga terlalu deg-degan. Tapi ada juga yang senangnya main rollercoaster, seru, deg-degan naik turun jungkir balik. Nah, kalau kita berinvestasi, kita juga akan punya perasaan seperti itu terhadap uang yang kita investasikan.

Karena saham lagi rame banget nih, boleh saya jadikan contoh ya. Misalnya, kita menginvestasikan uang kita sebesar satu juta Rupiah di saham, lalu sebulan kemudian eh sahamnya naik, uang kita jadi 1,2 Juta, seneng donk kita? Tapi kalau ternyata sahamnya turun dan uang kita jadi 800 Ribu saja, perasaan kita gimana? Ada yang takut dan panik, ada yang biasa aja, ada juga yang justru kaya lihat barang diskonan, beli lagi. Nah, perasaan inilah yang kita namakan profil risiko. Profil risiko dibagi dalam beberapa kategori, saya bahas yang paling umum saja ya.

Profil Risiko Konservatif

Orang-orang yang saat nilai investasinya turun cukup dalam lalu merasa panik, aduh gimana ya uangku, uangku hilang ga ya, aduh rugi deh aku, nah mereka ini masuk ke dalam profil konservatif. Untuk profil risiko ini tidak cocok untuk berinvestasi di saham. Biasanya kalau yang masih konservatif langsung coba di saham, setiap hari bawaannya pengen ngeliatin investasinya terus, takut uangnya hilang, padahal saham memang sangat volatile pergerakannya untuk ditengok setiap hari.

Untuk yang konservatif bisa mulai berinvestasi di deposito atau Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) ya. Walaupun returnnya tidak setinggi saham atau Reksa Dana Saham, tapi yang penting adalah investasi kita terjaga. Kalau nekat, justru risiko terbesarnya adalah kita harus cutloss (jual rugi) karena tidak tahan dengan pergerakan saham.

Profil Risiko Moderat

Kategori moderat ini sudah bisa mengambil risiko tetapi belum berani menanggung risiko yang besar. Sudah merasa imbal hasil dari deposito atau RDPU terlalu kecil, namun juga belum bisa mengambil risiko jika berinvestasi di saham. Maka bisa mulai mencoba berinvestasi di obligasi, sukuk, atau Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT). Bisa juga mencoba berinvestasi di Reksa Dana Campuran (RDC) yang berisi obligasi dan saham dalam komposisi yang seimbang agar imbal hasil investasi tetap menarik dengan risiko yang tidak setinggi jika hanya membeli Saham atau Reksa Dana Saham.

Nah, saat ini pemerintah cukup rajin menawarkan investasi dalam bentuk Obligasi Ritel (ORI) dan Sukuk Ritel (SR) yang bisa kamu beli dengan minimal pembelian satu juta saja. Bisa berinvestasi sekalian membantu negara, asyik kan?

Profil Risiko Agresif

Di kategori ini, biasanya investor juga sudah lebih memahami konsep investasi, sudah cukup ilmu tentang dunia investasi dan risikonya. Dengan profil risiko agresif ini, mereka sudah bisa berinvestasi di Saham dan Reksa Dana Saham (RDS). Biasanya investor sudah paham juga mengenai konsep investasi jangka panjang sehingga jika saham sedang turun, investor tidak terlalu panik dan resah akan nilai investasinya.

Kenapa Profil Risiko Penting?

Coba kita bayangkan sama-sama ya, seandainya kita adalah investor dengan profil risiko konservatif, lalu nekat langsung nyemplung di saham, setiap hari kita bawaannya ngeliatin portfolio kita, baru sebulan eh saham turun, kita panik, lalu cutloss, lalu kita bilang “aduh investasi bukannya bikin untung malah jadi buntung nih”, akhirnya kita trauma tidak mau berinvestasi lagi. Padahal investasi adalah salah satu bagian penting dalam perencanaan keuangan.

Jadi lebih baik memang kita berinvestasi menyesuaikan dengan profil risiko. Profil risiko itu juga bisa berubah loh. Saat kita mulai berinvestasi, kita akan mulai belajar sedikit-sedikit, seiring bertambahnya ilmu dan pengalaman, maka sangat mungkin orang yang tadinya memiliki profil risiko konservatif menjadi moderat atau bahkan agresif. Dan seiring bertambahnya usia juga akan mempengaruhi profil risiko kita nantinya.

Jadi, sebelum memulai berinvestasi, kamu wajib cek dulu ya profil risikomu. Cek dimana, kak? Bisa googling saja loh, gunakan keyword “cek profil risiko investasi”, sudah banyak yang menyediakan kuesionernya secara gratis. Selamat berinvestasi.

-Sebuah tulisan dari Gita Evanda (Financial Advisor Jooara dan konsultan Reksa Dana)

Leave a comment