Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Stop !! Jangan Belanja Dulu Kalau ….

Belanja, beli baju, sepatu atau bahkan belanja ke supermarket, tunda dulu kalau kita sedang HALT. Apa itu HALT, itu adalah singkatan dari Hungry, Angry, Lonely dan Tired. Tahu artinya kan? Benar sekali : lapar, marah, lelah dan galau. OK, tips ini mungkin agak tidak mudah diterapkan di zaman now ini. Tapi , ada baiknya kita coba sebisa mungkin ya. 

Pertama, yang namanya pergi belanja itu perlu ada tujuannya : apa yang mau dibeli? Karena jika kita pergi ke pusat perbelanjaan tanpa tujuan, maka akan tidak mudah mengendalikan uang yang akan keluar dari kantongmu. Kedua, taat anggaran. Tentukan anggaran maksimal yang boleh dibelanjakan saat keluar rumah. Jika perlu, bawa uang tunai saja untuk belanja. Tapi jika repot, niatkan kuat untuk belanja sesuai anggaran.

Ok, sekarang kita bahas HALT ya…

Hungry alias Lapar. 

Paling mudah kita mengujinya saat sedang puasa. Cobalah datang ke supermarket jam 3 atau 4 sore, apa yang terjadi? Ya benar, kecenderungannya seseorang akan mengambil banyak makanan dari rak dengan banyak harapan. Sepertinya enak nanti kalau buka puasa pakai ini, pakai itu, minum ini , sambil ngemil itu. Dan kita sudah bisa tebak apa yang terjadi saat berbuka, sedikit makan sudah sangat mengenyangkan. 

JIka saya berencana mengajak keluarga saya untuk pergi ke pusat perbelanjaan yang tujuannya bukan untuk makan di restoran, maka saya akan pilih jam keberangkatan di waktu-waktu setelah makan siang atau setelah makan malam. Intinya saya ingin pastikan perut semua anggota keluarga sudah kenyang sebelum pergi. Trik ini selalu manjur, biasanya anak-anak selalu meminta jajan ketika melewati outlet-outlet makanan dan minuman yang melambai-lambai. Dari kentang goreng, sampai teh dengan agar. Dari kue wafel, sampai ayam crispy. Tapi percayalah, jika dalam kondisi kenyang, fokus mereka akan tetap terjaga untuk mencari barang keperluannya saja. 

Angry alias Marah 

Kita tahu bahwa belanja itu ‘menyenangkan’. Nah, sedangkan marah itu kebalikan dari perasaan menyenangkan kan? Kalau setiap kali kita marah mengurangi angka energi kita, maka semakin marah makin minus angka energi kita. Ibarat lubang, makin dalam lubang itu digali. Jika lubangnya tidak terlalu dalam, maka hanya perlu sedikit tanah untuk menutupnya. Makin dalam lubangnya, makin banyak tanah yang diperlukan untuk membuatnya rata kembali dengan tanah. 

Jika dalam kondisi normal, sebuah sepatu sudah bisa mengembalikan mood kita. Maka jika dalam kondisi marah, mungkin kita perlu tas, sepatu, baju, kosmetik untuk bisa mengembalikan mood kita kembali normal. Dan apa yang terjadi ketika mood kita normal? Beberapa dari kita mungkin akan bertanya : “Apa yang saya pikirkan sampai-sampai saya membeli belanjaan sebanyak ini ya?” 

Lonely alias Kesepian

Nah, kalau ini modusnya cari teman. Mungkin pada saat ini sebenarnya kita hanya ingin ketemu teman. Tapi kalau ketemuannya di rumah, dasteran, sarungan gitu kan gak seru. Makanya biasanya langsung lokasi ketemuannya di kafe atau di mall kan? Atau sebenarnya kita hanya sedang ingin melepas suntuk aja. Datang ke supermarket tanpa tujuan, muter-muter bawa troli dan memasukkan apa yang kira-kira membuat kita happy. 

Tired alias Kelelahan

Biasanya ketika seseorang lelah, bawaannya ingin buru-buru. Tidak sempat menimbang-nimbang apakah ada barang sejenis yang lebih murah, atau mungkin ada barang penggantinya. Bahkan mungkin kita juga tidak sempat meneliti apakah barang yang kita beli kondisinya baik atau tidak. Kondisi lelah juga bisa membuat kita membeli hal-hal yang diharapkan bisa menghilangkan kelelahan kita, minuman segar, atau mungkin makanan-makanan yang sebenarnya kita tidak perlukan. 

Jadi, jangan HALT ya…

Sebuah tulisan dari Ferra Trisiana, ST, FChFP, CFP